Jika jemari telah tersentuh bayangan kosong
Suram menerpa , tangis duka menjerat
Memang sungguh beban jika sudah ternafsukan
Dikala senyuman telah dibuai dendam tak berarti
Nyawa seakan ingin menepuk dibalik senyumku
Seakan menebarkan rasa gundh, hancur tak berbekas
Kicauan burung sejenak hilang dalam lamunanku
Sejenak hilangkan senyuman nafsu dilekuk bibirku
Si suci ini mengalir deras bak menghantamkan keluh didalam dada
Seakan terpuruk terhantam nyanyian gelombang
Ia menyuruhku berdiri dari kejatuhan kepasrahanku
Menuai dendam dikala senyum ini tak berarti lagi
Tak tentu paras kian menemaniku
Merona amarah hantamkan nyawamu
Seakan hidup telah mengelabui masa kedendamanku
Hasrat kebahagiaan mulai hilang bertubi lenyap
Betapa raga berkeping hancur di kejauhan mataku
Menepuk halus aroma kemarahanku diam-diam menyusup kalbu
Aku tak hiraukan kicauanmu berdendang dilamunan panjangku
Apa dayaku jika dirimu dibenarkan dalam benakmu
Di indahkan dalam kaidah mu
Aku hanya bisa tersenyum dibalik jeruji senyuman itu
Mendayakan pikiranku sejenak bangkit dari kejauhannya
Ia sang langit suram dimata hati
Ia sang rembulan kelam dihasrat jiwa
Biarkan gelombang mengayunkan pesona kehidupanku
Tatkala aku menuai kepastian hidup bersuka ria
Mengkaidahkan gerakan jejak kaki di depan sang mentari
Berdiam sejenak bahwa aku satu-satunya pelipur di kehidupanku
Berdiam sejenak kedendaman ini menuai senyuman manis dikeabadianku
Karya: Vella Vista

Posting Komentar